Friday, 28 April 2017

Menjadi Diri Sendiri

Menjadi Diri Sendiri



“Jadilah Dirimu Sendiri”, “Kun Anta”, “Be Your Self” sebuah nasihat yang “membumi” dan “mengudara” kalimat sederhana yang mengandung pesan begitu dalam dan tidak sederhana. Untuk menjadi diri sendiri setidaknya harus menjawab beberapa pertanyaan mendasar tentang siapa diri kita dan apa yang menjadi kehendak diri kita?.

Ada sebuah ungkapan menarik “ semua yang ada di bawah matahari dan diatas bumi sudah pernah dilakukan makhluk didalam bumi baik yang masih hidup atau yang sudah mati” apa yang berjalan dalam ruang sejarah adalah pengulangan dari yang sebelumnya pun kalau ada yang benar-benar baru “hanyalah sedikit” nyatanya apa yang disajikan oleh hidup dan kehidupan sebahagian besar berakar dari pendahulu selebihnya adalah hasil modifikasi saja.

Menjadi diri sendiri bukan lantas tidak dengan melihat orang lain, dibutuhkan figur sebagai keteladanan atau paling tidak sebagai frame terluar untuk berubah menjadi diri sendiri yang seperti “itu”. dalam langkah mengenali diri sendiri perlu ekstraksi diri, semua unsur yang ada dalam kedirian seorang manusia harus diuraikan seperti apa yang menjadi kecenderungan terhadap sesuatu dan yang paling mendekati bagaimana diri kita atau cerminan kita.

Bakat dan keunikan diri adalah dua hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu, sebagai contohnya Ronaldo dan Messi memiliki bakat dan minat dalam dunia sepak bila namun mereka memiliki keunikan diri, yang membedakannya misalkan saja Ronaldo dengan power dan akurasinya sedangkan lionel messi dengan kelihaiannya gocekannya terhadap si kulit bundar. Contoh lainnya tentang perspektif, Andrea Hirata dan Eka Kurniawan sama-sama sebagai novelis namun memiliki gaya tulisan yang berbeda. Hal tersebut menunjukkan bahwa untuk menjadi diri sendiri garis bawahnya terletak pada mengetahui dan mengasah kekhasan diri.

Setelah mengenali siapa diri dan bagaimana ia, lantas pertanyaan berikutnya adalah apakah sebenarnya kehendak diri itu?. Pramoedya anata toer, sastrawan besar Indonesia yang dapat dibilang sudah mencapai puncak estetikanya sebagai pengarang mengatakan dalam film dokumenter mendengan si bisu bernyanyi “sampai hari ini aku belum bisa menjawab siapa aku ini dan apa yang aku kehendaki?” menurutnya itu adalah pertanyaan sulit. Kehendak diri bukan sekadar tentang aku ingin ini dan itu namun lebih kepada bentuk dari perwujudan eksistensi diri itu sendiri. Mungkin itulah yang menyebabkan ia tidak mudah diterjemahkan.

Ingin berperan sebagai apa? Dimana? Untuk siapa? Atas dasar apa? Kenyataannya bermuara pada dua kemungkinan tentang kehendak diri dan kehendak orang lain. lalu bagaimana?, Harun Yahya dalam bukunya semangat dan gairah menjelaskan kehendak tuhan diatas kehendak manusia, manusia yang memiliki kekuatan tidak terbatas hanyalah mereka yang memiliki landasan keimanan terhadap Tuhannya. Mereka yang memiliki orientasi pada keridhoan yang maha kuasalah yang terbukti stabil dalam memelihara diri sendiri.

Akhirnya, menjadi diri sendiri adalah melejitkan eksistensi tentang kedirian manusia. Eksistensi untuk dirinya sendiri yang bermanfaat untuk orang lain yang diperuntukkan untuk Tuhannya. Urusan mahu menjadi yang seperti apa itulah “DIRIMU SENDIRI” ...

Filosofi Alat Perekam


Filosofi Alat Perekam
Alex setiyawan

            Dalam sebuah dialog imajiner Malaikat berbicara kepada anak Manusia...
            “Siapa kamu?”sang Malaiat membuka cakap
            “Duhai sesama makhluk Allah kau tak kenal aku!, aku begitu masyhur di muka bumi ini” jawab manusia bernama Abu penuh keheranan.
            “Aku mengenal perbuatanmu, tapi siapa kamu pandanganku kabur”
            “Tidak masalah, cara mengenal memang berbeda-beda, syukurlah kalau kamu melihat perbuatanku lebih dahulu diatas siapa aku, namaku dan harta bendaku” Tersenyum riang abu menimpali.
            “Aku tahu ketampananmu, semua harta bendamu, kemasyhuranmu tapi yang lebih menarik adalah perbuatanmu” Malaikat tersenyum....
            “Apa yang paling kau perhatikan dari semua perbuatanku” Abu bertanya penuh bahagia.
            “Perbuatanmu yang paling menarik adalah ketika kau menebar kebaikan-kebaikanmu kepada manusia.
            “Alhamdulillah, lalu apa yang kau maksudkan pandanganmu kabur terhadapku?”
           “Iya kabur tentang keberlanjutanmu terhadap langkah kaki amalan-amalanmu itu”
          “Apa maksudmu?” desak Abu yang sedikit kurang terima dengan pandangan sang Malaikat itu.
          “Kau menebar amalan-amalanmu kepada manusia” tahukah kamu sebahagian besar langkah kaki amal-amalmu pergi menagih pengakuan, pujian, terhadap mata manusia”
         “Kau salah paham duhai Malaikat, tujuanku memperlihatkannya dimata manusia semata untuk keteladanan, agar mereka dapat termotivasi untuk sepertiku”
           “Sepertimu? Tahukah bagaimana kau dimata tuhanmu?” Kelihatannya memang tujuanmu baik, kedengarannya memang demikian, tapi hatimu tidak demikian... Ada perasaan pamer, ingin diakui, ingin dimuliakan dan ingin-ingin lain tentang kediriamu..
            “Lalu aku harus bagaimana?”
            “Jadilah seperti alat perekam, yang menyimpan dan menanyangkan sesuatu tanpa pernah menyebut “dirinya”. Begitu pula tentang dirimu, urusanmu adalah menyampaikan kebaikan bukan menyampaikan kamu orang baik. “kandungan dari kitab ini lebih penting dari pada citra pengarangnya” Pungkas malaikat sambil menunjuk kitab ulama besar ditangan abu.
            Abu tersadar dari tidurnya dan mulai bertanya tentang ke-diri-annya...